Program akselerator selama dua pekan Google Launchpad batch II sudah berlangsung sejak Senin (13/06) dimana Ruangguru menjadi satu-satunya startup edtech asal Indonesia di angkatan ini.

Jauh-jauh hari sebelumnya, EdTech Indo sudah melakukan wawancara dengan HarukaEdu dan Kakatu yang menjadi peserta di batch I dengan tiga pertanyaan yang sama. HarukaEdu diwakili langsung oleh Novistiar Rustandi selaku CEO begitupun dengan Kakatu yang langsung diwakili oleh Muhamad Nur Awaludin selaku CEO. Penasaran dengan jawabannya?

Baca Juga: RuangGuru Terpilih sebagai Peserta GoogleLaunchpad II

Menurut Anda, apa benefit mengikuti Google Launchpad di angkatan pertama?

Novistiar Rustandi: Belajar banyak dari expert mengenai product development, technology, dan digital marketing. Google sangat mementingkan user experience, karena itu selama di sana, kami banyak sekali belajar mengenai (cara) membuat product dengan user experience yang sangat baik.

Novistiar-Google-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Novistiar Rustandi berpose di depan kantor Google

Muhamad Nur Awaludin: Kita belajar banyak hal tentang pengembangan produk dari segi UI/UX, business development, marketing, investment, dan lain-lain. Benefit lainnya kita juga memperoleh mentoring dari mentor-mentor hebat dari internal dan eksternal Google. They are so helpful.

Sistem mentoring bootcamp di Silicon Valley sangat efektif karena padat dan one on one mentoring, jadinya lebih fokus, dan yang terakhir (kami) mendapatkan grant sebesar $50.000 dari Google.

Perubahan apa yang diterapkan dalam startup Anda sepulang dari program Google Launchpad angkatan pertama?

Novistiar Rustandi: Networking dengan tim Google, karena kami akan ditemukan dengan tim manapun di Google yang kami perlukan. Mau itu tim Google Maps, Google Docs, Cloud, etc, you name it. Hal ini juga membuka peluang untuk melakukan kerja sama dengan mereka.

Selain tim Google, kami juga dapat networking dan (bisa) belajar dari mentor-mentor top lainnya dari berbagai negara. Benefit lainnya yaitu publikasi dan public relations yang banyak sekali terbantu karena berhasil terpilih ikut Google Launchpad.

Sementara perubahan yang dilakukan HarukaEdu adalah:
(1) Focus on users.
Sepulang dari sana, kami langsung mengadakan user testing dan usability testing untuk lebih mengenal user kita.
(2). Mobile first mindset.
Apa yang kita lakukan sekarang selalu fokus di mobile karena kebanyakan user kita belajar menggunakan mobile device.
(3). Continuous improvement.
Kami berencana melakukan continuous improvement untuk memberikan learning experience yang terbaik kepada siswa kami. Kami juga meluncurkan “Project Taman Siswa” (untuk memperbaiki pedagogy), “Project Renaissance” (untuk memperbaiki digital learning materials), dan “Project Genesis” (untuk memperbaiki platform kami).

We want to enable people to learn anywhere, anytime, and any apps.

Muhamad Nur Awaludin: Untuk Kakatu sebetulnya yang sangat terasa adalah metode pengembangan produk dari segi UI/UX dan juga teknologi. Hasil yang didapat cukup signifikan ketika kami menerapkan “Google Design Spirit” plus beberapa metode yang diajarkan di sana, dan soon as possible kami juga akan implementasi teknologi baru dari Google yang akan rilis beberapa minggu ke depan ke publik.

Apa pesan Anda bagi Ruangguru yang terpilih pada Google Launchpad di angkatan kedua ini?

Novistiar Rustandi: Pesan untuk Ruangguru:
(1). Siapkan pertanyaan dari sekarang.
(2). Siapkan diri untuk belajar dan menerima masukan.
(3). Kirimkan tim inti yang bertanggung jawab untuk product development selain CEO-nya.

Muhamad Nur Awaludin: Sebisa mungkin prepare dari Indonesia. Maksudnya prepare state company sekarang kita dimana, apa challenge-nya, kita harus bisa define weakness kita sendiri dimana sekarang. Agar proses bootcamp di sana pun berjalan maksimal.

Mumu-Google-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Muhamad Nur Awaludin berpose di depan kantor Google

Karena setiap startup yang kemarin bootcamp di sana berbeda-beda state-nya, ada yang mungkin masalahnya di marketing, investment, atau bahkan tentang tim. Termasuk Kakatu, yang kita kira awalnya state kita itu di business model, ternyata state kita belum product market fit, jadi harus diperbaiki UI/UX dan teknologinya terlebih dahulu. Itu didapat dari proses assesment di awal dengan Google dulu. Yang terpenting harus “terbuka” tentang apapun kondisi kita saat ini, agar solusi yang diberi pun tepat.

Begitu kiranya hasil wawancara singkat dengan HarukaEdu dan Kakatu seputar pengalaman mereka menjadi peserta Google Launchpad batch I. Semoga pada angkatan ke III mendatang, ada lagi perwakilan dari startup edtech Indonesia.

*Hasil wawancara ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk kenyamanan pembaca.

Credit featured image: Tech in Asia Indonesia