[Sengaja tulisan ini saya terbitkan setahun setelah penggarapan, mengingat pada 2015 silam saya memiliki komitmen untuk menerbitkan opini ini hanya di majalah bisnis Usahawan Nusantara Volume 5 “Journey of an Entrepreneur: Fate versus Plan” hal.100 yang berbasis di Malaysia dengan jaringan pembaca di Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, dan tentu saja Malaysia.

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2016 dan HUT ke-1 EdTech Indo, saya memuatnya kembali di website EdTech Indo ini dengan beberapa penyesuaian agar bisa dibaca secara massal oleh publik. Selamat membaca!]

Jangan buat Indonesia sebagai negara konsumtif. Namun, jadikan Indonesia memiliki peran penting dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

(Anies Baswedan, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Desember 2014)

Terpilihnya Anies Baswedan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia pada kabinet kerja Presiden Joko Widodo periode 2014-2019 memberikan harapan baru terhadap bangkitnya pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan.

Apalagi sistem pendidikan Indonesia sempat digemparkan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) 32 tahun 2013 sebagai revisi dan pengganti PP 19 tahun 2005 dimana TIK bukan lagi sebagai mata pelajaran. Tiga tahun silam, mata pelajaran TIK dan KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) resmi dihapus pada Kurikulum 2013 dengan alasan mengada-ada.

Dalam bahasa lain, tiga tahun lalu, mata pelajaran komputer dasar dihapus dari struktur kurikulum pendidikan Indonesia. Lucunya, di tahun yang sama, negara jiran Malaysia justru resmi mereformasi sistem pendidikan nasionalnya dengan Google Apps dan Chromebooks. Bahkan Singapura tahun 2014 silam sudah mulai mengajarkan mata pelajaran pemrograman bagi siswa SD!

Di saat Indonesia terkesan kembali “primitif” dengan meniadakan mata pelajaran dasar bagaimana cara menggunakan komputer yang baik dan benar dari struktur kurikulum nasional; justru saya melihat, ada peluang wirausaha yang terbuka lebar sehingga saya berhasrat untuk segera meluncurkan komunitas EdTech Indo sebagai “The 1st Indonesia EdTech Startup Community” di negeri ini….

Baca Juga: [Repost] Liputan Launching EdTech Indo oleh Bloomberg TV Indonesia

Mendesain Masa Depan Edtech Indonesia

Jakarta-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Indonesia diprediksi sebagai market edtech tertinggi ke-3 di Asia pada 2017

Semua berawal dari tahun Mei 2012 ketika saya mendirikan startup edtech berupa media online teknologi pendidikan (edtech) bernama Eduqo (website sudah tidak bisa diakses). Saya mengakui bahwa Eduqo kurang berhasil dalam pertarungan startup Indonesia.

Karena saat itu, saya memang mendirikan Eduqo dengan wawasan dan keterampilan wirausaha yang sangat minim. Semakin dipertegas bahwa saya tidak memiliki pengalaman wirausaha sebelumnya. Praktis Eduqo merupakan “laboratorium” wirausaha pertama saya!

Namun, sekalipun dengan kondisi Eduqo yang memprihatinkan, dua bulan setelah pendiriannya Google Indonesia memilih Eduqo sebagai salah satu partner lokal. Menjelang akhir tahun 2013, majalah “Usahawan Nusantara” memilih Eduqo sebagai content partner. Awal tahun 2014, startup media asal Singapura yaitu e27 juga sempat meliput Eduqo beserta beberapa startup edtech Indonesia lainnya. Begitupun dengan Tech in Asia global yang pernah pula akan me-review Eduqo namun tidak sempat saya follow up lebih lanjut karena suatu kesibukan tertentu.

Village Capital – sebuah funding firm (perusahaan pembiayaan) dari Amerika Serikat – pun secara informal pernah bekerjasama dengan Eduqo ketika akan menyelenggarakan program akselerasi dan pendanaan khusus bagi startup edtech Indonesia awal tahun 2014 silam.

Eduqo saat itu bertugas menyeleksi startup edtech Indonesia yang layak memperoleh pendanaan dari Village Capital. Sayangnya di tengah jalan program ini dihentikan mengingat tidak ada satu pun startup edtech Indonesia yang lolos kualifikasi. Konon jika program ini benar-benar terselenggara, maka Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mengadakan akselerasi dan pendanaan khusus bagi startup edtech.

Tidak bermaksud apa-apa, sekalipun tampilan website Eduqo cukup memprihatinkan dengan sumber daya yang sangat terbatas, namun konten-nya terbukti menarik beberapa pihak yang jeli dengan sebuah potensi suatu wirausaha di bidang media online yang niche dengan konten edtech.

Kadang saya berpikir, mengapa justru media asal Singapura (e27 dan Tech in Asia global) serta Malaysia (Usahawan Nusantara) yang lebih mengapresiasi keberadaan Eduqo ketimbang media dari Indonesia dimana Eduqo berasal? Mengapa pula justru perusahaan pembiayaan dari Amerika Serikat (Village Capital) yang tertarik berkolaborasi untuk mengadakan akselerasi dan pendanaan khusus bagi startup edtech dibandingkan tawaran kolaborasi dari funding firm asal Indonesia sendiri? Mengapa lagi-lagi apresiasi itu berasal dari negara lain ketimbang dari dalam negeri?

Oleh karena itu, jikapun iya saya gagal dalam mengelola Eduqo, setidaknya ada beberapa pencapaian tersendiri yang sudah saya raih selama berkecimpung di sana.

Dua tahun pertama saya sangat fokus mengelola Eduqo. Selama itu pula saya menemukan fakta dan data menarik mengenai dunia startup edtech Indonesia serta sangat potensial menjadi lahan wirausaha. Pada saat yang sama, di tahun 2013 saya juga mulai aktif di komunitas Startup Lokal sebagai komunitas startup terbesar di Indonesia.

Setelah saya amati bertahun-tahun, tampaknya belum banyak pelaku startup Indonesia yang terjun memasuki sektor education technology (edtech). Bagi saya, lagi-lagi ini merupakan peluang wirausaha yang patut ditekuni….

Mata saya semakin terbuka saat menemukan data menjelang akhir tahun 2013 seiring dengan digelarnya ajang “Mobile Learn Asia 2013” di Singapura bersumber dari lembaga riset Ambient Insight yang mengungkap data dalam “The Asia Market for Mobile Learning Product & Services: 2012-2017 Forecast & Analisys” halaman 37 bahwa revenue industri Mobile Learning di Asia akan mencapai angka mengejutkan sebesar 6,8 Milyar US Dollar pada tahun 2017 mendatang dan menempatkan Indonesia sebagai top buyer ke-3 setelah China dan India!

Anda bisa membaca laporan lengkapnya di sini.

Pada tahun 2013 saja, Asia sudah membukukan 49 persen dari semua revenue Mobile Learning di dunia dan menempatkan Indonesia (lebih dari 40 persen) pada ranking ke-5 setelah Malaysia (57,5 persen), Thailand dan Vietnam (sama-sama 56 persen), serta Laos (49,9 persen) yang masuk ke dalam data “2012 – 2017 Top Ten Mobile Learning Five-Year Growth Rates in Asia by Country”. Data tadi mengungkap betapa Indonesia merupakan negara prospektif sebagai market produk dan layanan edtech pada tahun 2017 mendatang.

Mobile-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Mobile Learning merupakan salah satu parameter majunya industri edtech suatu negara

Namun, sebuah pertanyaan menyeruak dalam pikiran saya:

Jika tahun 2017 Indonesia diprediksikan sebagai konsumen edtech terbesar ketiga di Asia, lalu produk dan layanan edtech dari negara mana yang akan orang Indonesia gunakan?

Setelah memperoleh pencerahan dari perenungan itu, saya merasa harus segera melakukan sesuatu untuk mengubah kondisi Indonesia….

Selain itu data mengejutkan selanjutnya saya temukan dari majalah cetak TeknoPreneur (edisi spesial Juni 2010) dengan headline berjudul “Road to be Digital Creativepreneur” yang mengungkap bahwa pelopor startup edtech di Asia justru berasal dari Indonesia yaitu PesonaEdu! Tentu mereka bukan lagi disebut startup mengingat tahun ini memasuki usia 30 tahun.

Namun, siapa mengira bahwa produk software edukasi yang PesonaEdu kembangkan tersebut sudah diapresiasi bahkan dibeli oleh Prof. Douglas Dean Osheroff (Peraih Nobel Fisika 1996). Bahkan untuk menggarap market internasional, PesonaEdu mendirikan edisi globalnya yaitu Amazing Edu dengan membuka kantor di Singapura pada awal tahun 2008. Kini produk globalnya sudah diekspor ke-23 negara dan menjelajah ke-5 benua di dunia!

Setelah mengetahui fakta tersebut saya semakin menyadari bahwa Indonesia sebetulnya secara historis sudah memiliki potensi untuk menjadi market leader pada bidang edtech dengan produk dan layanan yang lain setidaknya di kawasan Asia!

Alasan selanjutnya yang membuat saya tergerak untuk segera mendirikan komunitas EdTech Indo yaitu berdasarkan data yang dilansir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Maret 2015.

Data itu mengungkap bahwa Indonesia di tahun 2014 memiliki 88,1 juta jiwa penduduk (34,9 persen) yang aktif mengakses internet. Menariknya, sebesar hampir setengah dari total jumlah pengguna internet di Indonesia (49 persen) didominasi anak-anak sekolah dan kuliah yaitu berusia 18 hingga 25 tahun.

Bahkan bersumber dari data berbeda yang dilansir UNICEF bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi, The Berkman Center for Internet and Society, serta Harvard University tahun 2014 silam juga bahwa setidaknya terdapat 30 juta anak Indonesia berusia 10 hingga 19 tahun yang notabene masih bersekolah dan sudah mengakses internet secara reguler.

Semakin menarik bahwa studi yang melibatkan 400 responden anak tersebut mengungkap bahwa salah satu dari tiga alasan utama mengapa mereka mengakses internet yaitu mencari informasi khususnya untuk keperluan sekolah.

Anda bisa membaca data selengkapnya di sini.

Bukan hanya itu, data tahun 2014 silam juga mengungkap bahwa Indonesia mempunyai 3 juta guru yang mengajar di 200.000 sekolah dengan total siswa sebanyak 50 juta jiwa.

Akumulasi dari jumlah pengakses internet di Indonesia yang masih duduk di bangku sekolah dan kuliah, jumlah sekolah, serta jumlah guru dan murid inilah menjadi komponen yang sangat dipertimbangkan dalam industri startup edtech.

Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menjadi konsumen saja pada 2017 mendatang atau juga turut berkontribusi sebagai produsen dari produk dan/atau layanan edtech?

Berbagai Peluang Bisnis Edtech

Light-Apple-Books-Desk-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Peluang bisnis edtech tidak hanya berupa startup

Sebagai Inisiator EdTech Indo, saya sangat menyadari bahwa ekosistem startup edtech Indonesia masih terbilang rapuh. Ironisnya, padahal Indonesia sendiri sempat memiliki catatan sejarah sebagai pelopor startup edtech di Asia.

Jika berbicara stakeholder startup yaitu media, incubator, co-working space, festival/contest, venture capital, angel investor, dan community; khususnya pada sektor startup edtech, Indonesia masih belum mapan. Namun, fakta tersebut justru memiliki celah menggiurkan tersendiri yang prospektif secara finansial.

Indonesia belum memiliki media khusus yang me-review perkembangan edtech dan startup edtech itu sendiri (Eduqo sempat masuk ke pasar ini. Namun, sekarang sudah tutup karena kekeliruan dalam hal model bisnis). Sementara India, misalnya sebagai negara sesama Asia, sudah memiliki EdTech Review India. Tentu saja Indonesia masih terlalu jauh jika dibandingkan Inggris yang sudah memiliki media Edukwest dan Amerika Serikat yang memiliki media EdSurge.

Indonesia belum memiliki incubator khusus untuk startup edtech. Selama ini program incubator yang diselenggarakan Indonesia tergolong heterogen untuk startup dari aneka sektor. Padahal startup edtech memiliki treatment tersendiri yang cukup berbeda. EdTech Incubator yang dikelola The Education Foundation bekerja sama dengan Tech City UK merupakan salah satu yang bisa menjadi benchmark sekiranya Indonesia ingin satu langkah lebih maju.

Indonesia belum memiliki co-working space khusus startup edtech dan/atau penggiat edtech pada umumnya. Sekalipun memang di Indonesia khususnya Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali sudah memiliki beberapa co-working space tersendiri yang cukup populer.

Bahkan pemerintah Indonesia melalui perusahaan negara yaitu PT Telkom mulai mendirikan co-working space yang dinamai Digital Lounge. Padahal co-working space khusus startup edtech juga diperlukan untuk membuat mini ekosistem internal seperti LearnLaunch yang berbasis di Boston, Amerika Serikat.

LearnLaunch-Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

LearnLaunch merupakan co-working space khusus startup edtech

Indonesia juga belum memiliki festival maupun kontes terkait startup edtech atau perkembangan edtech itu sendiri yang kental dengan permasalahan edtech secara lokal. Jikapun ada, topiknya kurang membumi dengan permasalahan edtech di Indonesia seperti yang September 2015 silam diinisiasi GESS Indonesia sebagai franchise event dari Inggris. Ada juga Asia Edu Tech Expo yang digabung dengan pameran furniture juga pameran mainan anak pada November 2015 sehingga konten edtech-nya sendiri kurang tergarap dengan baik.

Padahal di negara lain terdapat aneka event sejenis yang sarat sentuhan lokal yang tetap berorientasi global seperti EdTech Europe di London, INTED (International Technology, Education, & Development Conference) di Spanyol, bahkan Malaysia memiliki event DESA (The Digital Education Show Asia).

Untuk membangkitkan kesadaran publik mengenai potensi wirausaha di bidang edtech (bukan hanya startup-nya), dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2015 di Indonesia pada tanggal 02 Mei 2015 tahun silam, bersama rekan saya yaitu Winastwan Gora Swajati (Founder Kelase) dan Muhammad Iman Usman (co-Founder & CEO RuangGuru) akhirnya meluncurkan EdTech Indo sebagai “The 1st Indonesia EdTech Startup Community”.

Baca Juga: Foto-foto Saat Launching Komunitas EdTech Indo

Peluncuran komunitas EdTech Indo ini juga hasil kerjasama dengan komunitas EdTech Asia, EdCamp Indonesia, dan Google Educator Group (GEG) West Jakarta.

Besar harapannya bahwa kehadiran komunitas EdTech Indo turut mewujudkan harapan Anies Baswedan selaku Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia agar bangsa ini memiliki peran penting dalam ekosistem edtech. Teringat dengan pernyataan saya saat diwawancarai oleh e27 dua tahun silam:

I believe that ed-tech business will fly, if there is a nice cooperation among ABG: Academic, Business, and Government.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016!

SEKIAN

Herry Fahrur Rizal adalah Inisiator EdTech Indo (The 1st Indonesia EdTech Startup Community), Apprentice StartUp Lokal (The Largest Indonesia’s Local StartUp Community), Founder Eduqo (The 1st Indonesia EdTech Portal), Inisiator Startup Bandung Community, Ex-Public Relations Manager HarukaEdu, dan Ex-Blogger Tech in Asia Indonesia.

Dia aktif berbagi seputar dunia EdTech baik sebagai Trainer Google Apps for Education (GAFE); Pembicara di komunitas Google Student Ambassador”; Pembicara di ajang “National Education Conference 2013”; Pembicara di “ICT Expo 2013”, Pembicara di “GESS Indonesia 2015”, serta menjadi Host di meetup bulanan Startup Lokal dan Startup Bandung.

Anda bisa menghubungi Penulis dengan kirim e-mail ke herryfahrur[at]gmail.com.