Kita sering mendengar istilah Edupreneur yang kini sedang marak bertumbuh di Indonesia. Edupreneur sendiri adalah seseorang baik dalam maupun luar sekolah yang bertanggung jawab dalam menciptakan juga mengembangkan produk, program, jasa, dan teknologi untuk memaksimalkan pembelajaran yang konsisten serta didukung oleh organisasi sekolah.

Di tengah era digital ini, Edupreneur tak ubahnya seperti Entrepreneur yang membuat aplikasi, jasa, dan berbagai produk pendidikan agar bisa membantu guru, siswa, orang tua, bahkan sekolah untuk mendukung gaya hidup pembelajaran seumur hidup. Menariknya, pesatnya pertumbuhan Edupreneur ini diikuti dengan lahirnya Teacherpreneur. Lalu, apa perbedaan di antara keduanya?

Baca Juga: 30 Anak Muda Terbaik Bidang Pendidikan versi Forbes 2016

Menurut CEO The Center for Teaching Quality’s CEO, Barnett Berry, yang juga pengarang buku “TeacherPreneurs: Innovative Teachers Who Lead But Don’t Leave” (2013) bahwa “Teacherpreneur” adalah expert di kelas yang mengajar siswa secara reguler, namun mempunyai waktu, ruang, dan penghargaan untuk menginkubasi dan menjalankan ide mereka seperti seorang Entrepreneur (kita lebih akrab mengenalnya dengan istilah “Wirausahawan/wati”).

Book Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Buku Teacherpreneur | Sumber: Teaching Quality

“Teacherpreneur” berbeda dari “Edupreneur” yang seringkali diinterpretasikan sebagai Entrepreneur yang bekerja di lingkungan pendidikan baik guru ataupun bukan guru (Levy, 2015).

Ada dua hal utama pemicu lahirnya istilah “Teacherpreneur”:

Pertama, Guru memiliki kemiripan situasi yang dihadapi seorang Entrepreneur.

Misalnya saja, Guru melakukan begitu banyak eksperimen dengan cara yang berbeda untuk memecahkan masalah. Guru terus mencoba, mengadapatasi, dan menyesuaikan diri dalam kesehariannya di kelas. Sebagai contoh, Guru yang baik akan mendesain ulang pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa yang berbeda setiap tahunnya. Bukankah hal ini juga dilakukan oleh Entrepreneur yang menyukai eksperimen? Guru yang baik pun akan menciptakan versi beta dan mencoba berbagai metode dan melakukan evaluasi.

Kedua, Guru memiliki kegigihan yang serupa dengan seorang Entrepreneur.

Meskipun sumber daya yang dimiliki terbatas, Guru tidak pernah menyerah dengan siswanya. Guru memiliki karakter yang hampir serupa dengan Entrepreneur dimana mereka adalah seseorang yang juga tidak menyerah dengan keterbatasan dana, energi, sumber daya, dan waktu.

Kurangnya tenaga pendidik yang bermutu menyebabkan Teacherpreneur memegang peranan penting dalam memaksimalkan Edupreneur dalam mengimplementasikan produk dan jasanya dalam sekolah. Byrd (2013), Co-Author dari buku Teacherpreneur, menyatakan bahwa seorang Teacherpreneur tetap memelihara komitmen mereka untuk siswa dan kegiatan pengajaran untuk memimpin baik di dalam maupun di luar kelas mereka.

Sampai saat ini lahirnya Teacherpreneur menghadapi berbagai macam kendala seperti keterbatasan energi, waktu, dan sumber daya. Terbatasnya budget sekolah, konflik kepentingan, dan rumitnya birokrasi seringkali juga menghambat inovasi terjadi. Sibuknya guru dengan pekerjaan dan kegiatan sekolah, lamanya jam kerja, serta berbagai masalah yang harus dihadapi setiap harinya pun membuat Guru sulit untuk berpikir mencari waktu untuk menciptakan perubahan.

Hal ini juga membuat Guru terisolasi karena mereka tidak punya waktu untuk menjalin koneksi dengan dunia luar. Selain itu, kurangnya fleksibilitas sekolah, birokrasi yang rumit, serta administrator yang mempersulit Guru melakukan inovasi pun menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi, konsep diri Guru tentang Entrepreneur dalam pendidikan masih sulit dimengerti dan diterima baik oleh Guru, Administrator, bahkan lingkungan sekitar yang menghambat lahirnya Teacherpreneur di sekolah.

Sudah saatnya sekolah, Edupreneur, serta komunitas pendidikan mendukung lahirnya Teacherpreneur dengan beberapa langkah sederhana berikut.

Pertama, sekolah perlu memberikan ruang kepada Guru untuk berkreasi, berkarya, bereksperimen, bertumbuh dengan memberikan dukungan, dan dorongan serta penghargaan untuk kreativitas Guru. Ketika Guru didorong untuk berani mencoba bereksperimen dalam “laboratorium”-nya yaitu kelas dimana dia mengajar, perubahan tanpa batas pun dapat terjadi.

Kedua, sekolah juga perlu memberikan fleksibilitas pengelolaan kerja pada Guru dimana mereka bisa lebih fleksibel dalam mengumpulkan administrasi dan pekerjaan sekolah dengan efektif dan efisien.

Hal ini tentu akan mengurangi beban Guru dalam kekurangan tenaga dan waktu. Lalu, untuk para Edupreneur, mari membangun startup edtech yang juga melibatkan Guru untuk mencoba produk atau jasa tersebut agar para Guru bisa mengkontribusikan ide, saran, serta masukan untuk pengembangan produk atau jasa tadi.

Ajak dan libatkan Guru masuk dalam konferensi, seminar, diskusi edtech, dan bagian dari kegiatan yang mencari solusi dan sumber daya untuk memaksimalkan KBM (Kegiatan Belajar dan Mengajar).

Semoga dengan kelahiran Teacherpreneur ini, pendidikan Indonesia dapat menjadi lebih berwarna dan bermakna yang kemudian melahirkan Edupreneur, Entrepreneur, serta Teacherpreneur yang dapat bergandeng-tangan memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

*Ditulis oleh Steven Sutantro (Guru Kewirausahaan SMA Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta) sebagai Juara I ASEAN Teacher Essay Writing Competition 2012 yang diselenggarakan oleh Olimpiade Ilmu Sosial-Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia.

Penulis juga berhasil menerbitkan jurnal ilmiah di jurnal Polygot, “Using Simulation to Improve Students’ Creative Thinking in Economics” berkolaborasi dengan Pamela Harvey, Ph.D dari Southland College.
Anda bisa menghubungi Penulis dengan follow di Twitter @Steven_Sutantro atau circle di Google Plus +StevenSutantro.