Konferensi internasional Tech in Asia Jakarta 2015 sudah berlangsung satu pekan silam setelah penyelenggaraanya selama dua hari 11-12 November 2015. Pada gelaran tahunan yang keempat kalinya ini, Tech in Asia Jakarta lebih membuka kesempatan bagi para startup se-Asia untuk bereksebisi di area “Bootstrap Alley”. EdTech Indo pun menemukan sekitar 8 startup EdTech yang diurutkan sesuai abjad sebagai berikut:

Baca Juga: Mana.bo: Startup EdTech Pertama yang Menjuarai Arena Tech in Asia

Startup EdTech Ke-1: Cakra (Indonesia)

1-Cakra Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Buah hati Anda mengidap Autis dan memerlukan terapi kekinian menggunakan sebuah aplikasi teknologi? Cakra adalah jawabannya!

Cakra merupakan aplikasi interaktif untuk terapi Autis, ADD (Attention Deficit Disorder/ Gangguan kurang perhatian), Down Syndrome (keterbelakangan mental) Slow Learner (lambat belajar), dan retardasi mental (disabilitas yang ditandai dengan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan rendahnya kemampuan untuk berperilaku adaptif) yang dikembangkan sejak awal 2013.

Berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta, Cakra yang langganan meraih berbagai penghargaan ini menambah satu lagi startup EdTech yang didedikasikan untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) buatan anak bangsa selain Lexipal. Uniknya, baik Lexipal maupun Cakra keduanya berdomisili sama yaitu di Yogyakarta!

Startup EdTech Ke-2: Engoo (Indonesia)

2-Engoo Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Dari sekian startup EdTech yang menyediakan layanan belajar bahasa secara online di Indonesia, tampaknya bahasa Inggris relatif lebih banyak pilihan. Satu lagi yang menjajaki pasar ini yaitu Engoo.

Engoo sendiri sudah berdiri sejak tahun 2013 dan telah menerima lebih dari 25.000 murid dengan mematok tarif mulai dari Rp 800.000,- hingga Rp 2.000.000,- per bulan melalui pembelajaran bahasa Inggris online berbasis Skype.

Selain Engoo, layanan sejenis sudah terlebih dahulu hadir di Republik ini seperti Bahaso dan Hits English, bahkan Duolingo dengan keunggulannya masing-masing.

Startup EdTech Ke-3: Ivy Lesson (Hong Kong)

3-IvyLesson Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Layanan tutoring secara online bukanlah hal baru di Indonesia. Namun, layanan sejenis yang menyasar kelas premium memang baru: Ivy Lesson.

Mengklaim sebagai startup EdTech yang memiliki Tutor terbaik berlatar belakang mahasiswa dan alumni Universitas kelas dunia seperti Harvard dan MIT, Ivy Lesson yang berbasis di Hongkong ini mematok biaya rentang HK$600 hingga $800 (sekitar Rp 1 juta – Rp 1,4 juta) per jam.

Dengan mengutamakan mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan untuk pengguna setingkat SMP-SMA, tampaknya tantangan Ivy Lesson jika memasuki Indonesia akan bersaing secara tidak langsung dengan RuangGuru yang lebih efisien.

Startup EdTech Ke-4: Listeno (Indonesia)

4-Listeno Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Setelah tren e-book mewabah di Indonesia seperti yang disajikan Moco dan Digidu, tampaknya tren selanjutnya akan segera melengkapi yaitu audio book seperti yang dipelopori Listeno.

Didirikan pada Desember 2014, buku “bersuara” yang telah bermitra dengan Bentang Pustaka ini memudahkan pembaca dalam memahami sebuah buku dengan pendekatan auditorial.

Karena belum genap satu tahun, audio book yang tersedia di Listeno baru 50 koleksi antara lain kategori cerpen, novel, motivasi, dan horror.

Startup EdTech Ke-5: Rabbit Learning (Singapura)

5-RabbitLearning Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Tampaknya baru Rabbit Learning sebagai startup EdTech yang menyediakan layanan pembelajaran bahasa asing namun terukur secara personal (personalized learning) dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan (customized learning).

Bukan hanya itu keunggulannya, startup EdTech asal Singapura yang berkonsep “Lesson Builder” ini juga memungkinkan pengguna baik lembaga pendidikan maupun korporasi untuk membuat pelajaran bahasa asingnya tersendiri sesuai keinginan, bahkan bisa menjual pelajaran bahasa asing yang telah dibuatnya tersebut!

Tidak heran dengan inovasinya ini, Rabbit Learning masuk ke dalam “Top 30 Startup EdTech” dalam ajang bergengsi “Global EdTech Startup Awards 2014” dan “Top 100 Startup” versi Echelon Asia 2015 seperti yang juga diterima Kakatu.

Startup EdTech Ke-6: StudentConnect (Singapura)

6-StudentConnect Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Salah satu fungsi Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah dan kampus adalah mengarahkan siswa/mahasiswa melalui proses Bimbingan dan Konseling Karir, salah satunya agar masuk ke dunia kerja sesuai minat dan bakat mereka.

Startup EdTech asal Singapura bernama StudentConnect ini memudahkan para Guru BK dan Konselor di kampus dalam proses penjurusan tersebut utamanya saat mereka dalam masa-masa magang, sedang mencari pekerjaan paruh waktu, atau pekerjaan tetap bagi mahasiswa yang baru lulus.

StudentConnect juga sudah bermitra antara lain dengan Microsoft Singapura, UBER Indonesia, Air Asia Singapura, dan Zalora Singapura yang mematok biaya bagi perusahaan tersebut rentang dari S$199 per bulan (sekitar Rp 2 juta) hingga S$1,599 per tahun (sekitar Rp 16 juta) dalam menggunakan jasanya.

Startup EdTech Ke-7: Studentpreneur (Indonesia)

7-Studentpreneur Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Dibandingkan RuangGuru, EZtudia, dan Eduindo yang sama-sama mengusung konsep bisnis content marketplace, tampaknya Studentpreneur lebih mengkhususkan diri pada konten kelas-kelas online yang hanya terkait dengan pembelajaran wirausaha.

Adapun kursus berupa kelas online wirausaha yang disediakan startup EdTech asal Surabaya ini meliputi topik Economy, Accounting, Finance, Management, Sales & Marketing, Technology, dan Online Business.

Satu hal yang mencuri perhatian EdTech Indo bahwa Studentpreneur semula adalah media online yang membahas tentang entrepreneur seperti yang sempat dibahas Tech in Asia Indonesia. Apakah ini pivoting Studentpreneur yang belum dipublikasikan secara resmi?

Startup EdTech Ke-8: VivaLing (Singapura)

8-VivaLing Thumb
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn

Tiga dari delapan startup EdTech yang kami temukan di Tech in Asia Jakarta 2015 pekan silam, ternyata startup penyedia layanan pembelajaran bahasa asing yaitu Engoo, Rabbit Learning, dan terakhir: VivaLing.

VivaLing sendiri mengklaim sebagai startup EdTech pertama di dunia yang menyediakan pembelajaran bahasa asing utamanya Inggris, Mandarin, Perancis, dan Spanyol khusus untuk anak-anak, dimana proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) mereka berbasis real-time video dan coach yang merupakan native speaker.

VivaLing membidik target market anak-anak yang berusia 3 hingga 15 tahun sebagai consument, namun tetap saja membidik orangtua sebagai customer. Uniknya, skema harga yang dipatok pun tergantung berdasarkan klasifikasi coach (certified, advanced, atau expert), session duration, dan bahasa yang dipilih.

Semoga delapan startup EdTech yang kami temukan pada Tech in Asia Jakarta 2015 ini menambah wawasan berbisnis Anda.

Jumpa lagi di Tech in Asia Jakarta 2016!